SISTEM DINAR SEPERTI BERTERIAK DI PADANG PASIR

Penerapan sistem Dinar di Indonesia masih panjang. Sosialisasi jalan terus. Tapi nyaris tak terdengar. Padahal Australia saja yang sekuler dan anti islam sudah mulai menerapkanny, meski masih malu-malu. Sosialisasi untuk kembali ke mata uang dinar dan dirham telah lama dilakukan. Dalam kurun waktu satu tahun terakhir ini, tercatat beberapa kali diadakan, baik dalam bentuk diskusi terbatas hingga dari seminar ke seminar. Tapi, kenyataannya, hingga saat ini, belum juga mendapatkannya momentumnya yang tepat. Minimal suatu kondisi yang dapat dijadikan sebagai pijakan untuk perkembangan lebih lanjut. Apa yang tengah dilakukan beberapa kalangan yang ingin mengembangkan mata uang ini, ibarat berteriak di tengah padang pasir. Sekalipun tanpa dukungan pemerintah, upaya pengembangan mata uang dinar dan dirham terus begulir. Perlahan, wakala dinar mulai bermunculan di mana-mana. Termasuk di Jakarta. Dan proses pengembangannya pun lebih bersifat natural, karena tumbuh secara bottom up. Namun demikian menurut A.Riawan Amin, Direktur Utama Bank Muamallat Indonesia, mengatakan bahwa di belahan manapun di dunia, perubahan itu sulit terjadi, kalau pemimpinnya tidak ikut terlibat. Sebagai contoh, Malaysia, bisaa selamat dan lolos dari cengkraman krisis moneter berkepanjangan karena Mahathir tercerahkan. “sekuat-sekuat kita melakukan sosialisasi, pada akhirnya akan sangat ditentukan kesadaran dan keberpihakan pemerintah terutama otoritas moneter kita,” ungkapnya. Jadi kalau pemikiran-pemikiran ekonomi Islam seperti penerapan dinar, dirham meresap, dihayati, dan menjadi kesadaran para pemimpin kita proses ini akan lebih cepat,”tambahnya. Upaya percepatan penggunaan mata uang ini memang perlu mendapat perhatian serius. Terlebih dengan adanya fenomena peningkatan cadangan emas di AS dan Eropa. Seperti dikemukakan Mohammad Radwan Alami, Chief Executive Officer Alami of Companies, bahwa masyarakat Uni Eropa saat ini telah mencadangkan 38,9 persen dari currency telah di back up dengan emas. Padahal Eropa bukan penghasil emas. Beberapa perkembangan tersebut perlu disikapi Indonesia. Memang ada kendala, bahwa semua negara yang menandatangani United Nation Charter dan menjadi anggota PBB, termasuk Indonesia dilarang mencetak currency emas. Dan larangan tersebut terdapat dalam konvensi bersama anggota-anggota PBB. Tapi pertanyaannya, kenapa di Eropa bisa, dan bahkan di Australia telah keluar mata uang emas. Apa yang ditunggu pemerintah Indonesia?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: